Tampilkan postingan dengan label tips menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips menulis. Tampilkan semua postingan
Jumat, 29 April 2011

Jenis-jenis Paragraph

Berdasarkan letak kalimat utamanya :
  1. Paragraf deduktif yaitu paragraf yang kalimat utamanya terletak di awal kalimat.
  2. Paragraf induktif yaitu paragraf yang kalimat utamanya terletak di akhir kalimat.
  3. Paragraf campuran yaitu paragraf yang kalimat utamanya terletak di awal dan di akhir paragraf.
  4. Paragraf yang tidak memiliki kalimat utama yaitu paragraf yang gagasan utamanya tersebar secara seimbang dan merata pada setiap kalimat. Contohnya pada karangan berbentuk naratif dan deskriptif.

  Berdasarkan Tujuannya :
  1. Paragraf pembuka yaitu paragraf yang berperan sebagai pengantar masalah yang akan disampaikan dalam isi karangan.
  2. Paragraf penghubung yaitu paragraf yang berisi seluruh persoalan dalam suatu karangan.
  3. Paragraf penutup yaitu paragraf yang berisi kesimpulan atas uraian yang dikemukaan untuk mengakhiri suatu karangan.

SELESAI
Selasa, 29 Maret 2011

Tentang Puisi

Apa sih Puisi itu?

Puisi adalah rangkaian atau susunan kata yg indah, bermakna, dan memiliki aturan serta unsur-unsur bunyi.

Bagaimana menciptakan sebuah puisi yg indah?

Menulis puisi biasanya dijadikan media untuk mencurahkan perasaan, pikiran, pengalaman, dan kesan terhadap suatu masalah, kejadian, dan kenyataan di sekitar kita.
Nah langkah-langkah penciptaan puisi itu sendiri terdiri atas empat tahap penting, yaitu :
Jumat, 18 Maret 2011

Panduan Membuat Esai

Untuk membuat sebuah esai yang berkualitas, diperlukan kemampuan dasar menulis dan latihan yang terus menerus. Berikut ini panduan dasar dalam menulis sebuah esai. 



Struktur Sebuah Esai


Pada dasarnya, sebuah esai terbagi minimum dalam lima paragraf: 


1. Paragraf pertama

Dalam paragraf ini penulis memperkenalkan topik yang akan dikemukakan, berikut tesisnya. Tesis ini harus dikemukakan dalam kalimat yang singkat dan jelas, sedapat mungkin pada kalimat pertama. Selanjutnya pembaca diperkenalkan pada tiga paragraf berikutnya yang mengembangkan tesis tersebut dalam beberapa sub topik.


2. Paragraf kedua sampai kelima

Ketiga paragraf ini disebut tubuh dari sebuah esai yang memiliki struktur yang sama. Kalimat pendukung tesis dan argumen-argumennya dituliskan sebagai analisa dengan melihat relevansi dan relasinya dengan masing-masing sub topik. 
 

3.  Paragraf kelima (terakhir)

Paragraf kelima merupakan paragraf kesimpulan. Tuliskan kembali tesis dan sub topik yang telah dibahas dalam paragraf kedua sampai kelima sebagai sebuah sintesis  untuk meyakinkan pembaca



Langkah-langkah membuat Esai


1. Tentukan topik

2. Buatlah outline atau garis besar ide-ide anda

3. Tuliskan tesis anda dalam kalimat yang singkat dan jelas

4. Tuliskan tubuh tesis anda:

o  Mulailah dengan poin-poin penting

o  kemudian buatlah beberapa sub topik

o  Kembangkan sub topik yang telah anda buat

5. Buatlah paragraf pertama (pendahuluan)

6. Tuliskan kesimpulan

7. Berikan sentuhan terakhir


Kamis, 03 Maret 2011

Lima Unsur Dalam Fiksi Yang Mesti Kita Tahu

Dunia fiksi adalah dunia kebebasan tanpa batas. Kita bisa pergi ke mana saja, melanglang buana semau kita, menghentikan waktu dan menjalankannya kembali, semua itu bisa kita lakukan kapan saja. Kita juga bisa menciptakan makhluk-makhluk aneh yang belum sempat tuhan ciptakan, membangun sebuah pulau yang tak pernah tercatat dalam sejarah, mematikan tokoh protagonis, memberi penghargaan kepada tokoh antagonis, membalik segalanya, merusak segalanya, mendekonstruksi realita sehari-hari dengan imajinasi. Ya, dengan menulis fiksi, kita bisa melakukan apa saja.

Namun, kita juga mesti tahu, bahwa sebebas apa pun kita menulis fiksi, ada beberapa panduan yang mesti kita ikuti.

Penulisan fiksi yang bagus sekiranya harus memiliki lima unsur. Kesemua unsur tersebut adalah bahan paling penting untuk kita gunakan dalam membuat cerita fiksi yang memikat, indah, menawan, memukau, sehingga membuat pembaca begitu betah berlama-lama membaca cerita kita.
Senin, 28 Februari 2011

Tips Menghindari Writter's Block

Kita pasti pernah mengalami kebuntuan dalam menulis, atau bahasa kerennya writer’s block. Namun, apa sih writer’s block itu? Ada yang bilang bahwa writer’s block adalah kutukan. Bahkan ada pendapat lain yang mengatakan bahwa writer’s block itu cuma mitos. Tapi, hampir semua orang pasti pernah mengalami hal seperti ini: duduk di depan layar komputer, jari-jari sudah gatal untuk segera menekan tuts di keyboard, dan segala macam gagasan berkelindan di dalam tempurung kepala. Tapi apa yang terjadi selanjutnya? Tak ada satu kata pun yang lahir. Ide tak juga kunjung mewujud. Dan, tentu saja, layar itu tetap saja kosong.
Writer’s block bisa dibilang misterius. Ia datang secara tiba-tiba tanpa pernah kita duga. Kadang ia datang dari awal ketika kita ingin menulis, sehingga membuat kertas atau layar komputer kita tetap saja kosong dari awal sampai akhir. Kadang ia datang di saat tulisan kita sudah lumayan banyak, sehingga kita sudah seperti pengendara motor yang sedang kehabisan bensin, mogok ditengah jalan tanpa bisa melakukan apa-apa. Bahkan ia juga pernah datang di saat-saat terakhir ketika tulisan kita sedikit lagi akan selesai. Bisa dibayangkan betapa menjengkelkannya jika hal tersebut terjadi oleh kita.

Mengapa Writer’s Block Bisa Terjadi?
Hernowo, penulis buku Mengikat Makna Update, pernah mengatakan bahwa faktor penyebab terjadinya writer’s block itu ada banyak. Di antaranya adalah: pertama, miskin bahasa atau kata-kata. (Punya banyak ide, tapi tak bisa dikeluarkan karena kata-kata yang tersimpan di dalam diri tak bisa menampung ide-ide hebat tersebut). Kedua, tak memiliki topik yang mengesankan (bermakna) untuk ditulis. Kita sudah kepengin atau kebelet menulis, komputer sudah dinyalakan, tapi yang mau kita tulis tidak menggairahkan diri kita, ya, akhirnya nggak ada yang bisa dikeluarkan dari diri kita. Ketiga, tidak berani dan enggan mencicil menulis. Sebenarnya kalau kita mau pelan-pelan mengeluarkan bahan-mentah tulisan, nggak ada yang namanya writer’s block itu. (baca Tentang Writer's Block, yang dimuat di Mizan.com).

Ketika Tulisan Tak Layak Muat dan Kalah Lomba


"Aku dapat tidur di suatu hari dengan nyenyak bila telah menyelesaikan jadwal menulis yang kubuat untukku di hari itu."
(Stephen King)

Saya kalah dalam sebuah lomba yang baru-baru ini diumumkan para pemenangnya. Ya, lomba mengarang cerpen Femina. Guru saya dalam menulis, Arie Saptaji, menjadi salah satu pemenang penghargaan di lomba itu. Cerpennya memang hebat. Saya sempat membacanya sebelum di-online-kan di situsnya waktu saya berkunjung ke rumahnya di
Yogyakarta lebih dari setengah tahun silam. Namun, yang saya tulis berikut bukan hanya soal lomba itu. Yang saya alami selama empat tahun berkecimpung di dunia kepenulisan adalah kekalahan semata-mata.

Tulisan saya amat jarang dimuat media cetak. Padahal saya sudah membaca buku sastra sebanyak mungkin: dari tentang menulis, novel, kumpulan cerpen, atau resensi buku. "Sebanyak mungkin" yang tadi saya tulis adalah dalam ukuran saya: 1 buku 1 minggu. Dan buku-buku itu tentulah bukan buku anak-anak yang kadangkala hanya memuat 1 kalimat dalam 1 halaman -- sisanya digunakan gambar ilustrasi. Seingat saya, buku-buku yang saya baca kebanyakan berjumlah halaman lebih dari 200 halaman. Dan halaman-halaman itu kalau bisa disimpulkan berisi tulisan yang dapat disamakan dengan huruf Times New Roman berukuran 10 dan berspasi tunggal.

Minggu, 27 Februari 2011

Tips Membuat Karya Tulis Esai

Kawan, kali ini Komunitas Sastra dan Blogger Madiun (KSBM)  bakalan bagi-bagi ilmu tentang cara membuat karya tulis esai. Selain pengalaman, ada dasar-dasar yang kayaknya emang kudu di pelajarin, tujuannya sih biar punya pegangan / pedoman. Nah, untuk membuat sebuah esai yang berkualitas, diperlukan kemampuan dasar menulis dan latihan yang terus menerus. Berikut ini panduan dasar dalam menulis sebuah esai.

Struktur Sebuah Esai
Pada dasarnya, sebuah esai terbagi minimum dalam lima paragraf:

1. Paragraf pertama
Dalam paragraf ini penulis memperkenalkan topik yang akan dikemukakan, berikut tesisnya. Tesis ini harus dikemukakan dalam kalimat yang singkat dan jelas, sedapat mungkin pada kalimat pertama. Selanjutnya pembaca diperkenalkan pada tiga paragraf berikutnya yang mengembangkan tesis tersebut dalam beberapa sub topik.

2. Paragraf kedua sampai kelima
Ketiga paragraf ini disebut tubuh dari sebuah esai yang memiliki struktur yang sama. Kalimat pendukung tesis dan argumen-argumennya dituliskan sebagai analisa dengan melihat relevansi dan relasinya dengan masing-masing sub topik.

3. Paragraf kelima (terakhir)
Paragraf kelima merupakan paragraf kesimpulan. Tuliskan kembali tesis dan sub topik yang telah dibahas dalam paragraf kedua sampai kelima sebagai sebuah sintesis untuk meyakinkan pembaca

Langkah-langkah membuat Esai
  • 1. Tentukan topik
  • 2. Buatlah outline atau garis besar ide-ide anda
  • 3. Tuliskan tesis anda dalam kalimat yang singkat dan jelas
  • 4. Tuliskan tubuh tesis anda:
  • 5. Mulailah dengan poin-poin penting
  • 6. kemudian buatlah beberapa sub topik
  • 7. Kembangkan sub topik yang telah anda buat
  • 8. Buatlah paragraf pertama (pendahuluan)
  • 9. Tuliskan kesimpulan
  • 10. Berikan sentuhan terakhir 
Selamat mencoba, mudah-mudahan tips ini berguna!! :)

SELESAI
Rabu, 23 Februari 2011

Menulis itu Gampang Rumus 5W + 1H

Begitu banyak jenis tulisan kalau kita mau menggolong-golongkannya. Ada fiksi dan nonfiksi. Ada berita hardnews dan analisa. Ada pula biografi, esai, artikel, skrip radio dan teve, editorial, weblog, surat cinta dan segudang lainnya. Jangan lupa, ada yang berkaitan dengan bisnis, seperti surat penawaran, minutes meeting, dan ribuan jenis business letter.

Lupakan dulu kategorisasi yang memusingkan kepala. Karena sebagian besar jenis tulisan bisa dikatakan baik dan benar bila memenuhi rumus baku yang sama. Yakni 5W + 1H. Itulah rumus sakti yang menjadi pegangan saya ketika menjadi jurnalis di Bisnis Indonesia, majalah PROSPEK dan terakhir di majalah SWA (ya, profesi awal saya adalah jurnalis, kurang lebih lima tahun saya menjalaninya dengan penuh suka cita).

Rumus macam apa itu? Sederhana sekali:
W1 = What
W2 = Who
W3 = When
W4 = Where
W5 = Why
H = How

Majelis Sastra Madiun. Gambar tema oleh andynwt. Diberdayakan oleh Blogger.
 

© Majelis Sastra Madiun, All Rights Reserved
Design by Dzignine and Conceptual photography